Tampilkan postingan dengan label Dunia Tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Tambang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2015

BATUBARA DI INDONESIA

    Batubara adalah batuan sedimen organik, yang dapat terbakar sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi. Batubara terbentuk dari hasil pengawetan sisa - sisa tanaman purba dan menjadi padat setelahtertimbun oleh lapisan di atasnya. Batubara merupakan bahan galian strategis dan salah satu sumber energi yang mempunyai peran besar dalam pembangunan nasional.
    Secara umum batubara dapat dikenal dari kenampakan sifat fisiknya yaitu berwarna coklat sampai hitam, berlapis, padat, mudah terbakar, kedap cahaya, non kristalin, berkilap kusam sampai cemerlang, bersifat getas, pecahan kasar sampai konkoidal. Unsur kimia utama pembentuk batubara adalah karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N) dan sulfur (S). Proses pembentukan Batubara
   Proses pembentukan batubara diawali oleh adanya pertumbuhan tanaman pembentuk batubara di lingkungan rawa-rawa. Tumbuhan tersebut kemudian mati dan terbenam di rawa. Tumbuhan baru hidup dan mati. Pada akhirnya sisa-sisa tumbuhan yang mati membentuk suatu lapisan, yang kemudian menghilang di bawah permukaan air. Dan terawetkan melalui proses biokimia. Ketebalan lapisan tumbuhan tersebut tergantung dari lamanya tumbuhan hidup. Lapisan tumbuhan yang telah mati dapat ditemukan dalam ketebalan yang bervariasi mulai dari beberapa meter hingga lebih dari 60 meter.
   Jika diakibatkan oleh adanya penurunan muka tanah (subsidence) yang disebabkan oleh proses tektonik, hutan berakhir dibawah muka air, kehidupan tumbuhanpun berakhir. Selanjutnya material klastik yang dibawa oleh sungai diendapkan diatas sisa-sisa tumbuhan yang telah mati tersebut. Material klastik tersebut dapat berupa lapisan batupasir, batulempung atau batulanau yang kemudian menjadi tebal jika pengendapan terjadi dalam kurun waktu yang lama. Lapisan-lapisan tersebut dikenal sebagai lapisan pembawa batubara yang ketebalannya bisa mencapai ratusan meter. Jika penurunan tanah (subsidence) berkurang atau adanya proses pengangkatan tanah, daratan dapat muncul kembali diatas muka air sehingga tumbuhan dapat hidup kembali. Daurpun berulang kembali. Dengan cara seperti ini akan terbentuk beberapa lapisan sisa-sisa tanaman dengan kehadiran batupasir, batulanau atau batulempung berselingan mengendap diatasnya.
    Dalam proses biokimia, adanya aktifitas bakteri mengubah bahan sisa-sisa tumbuhan menjadi gambut (peat). Gambut yang telah terbentuk lambat laun tertimbun oleh endapan-endapan lainnya seperti batulempung, batulanau dan batupasir. Dengan perjalanan waktu yang mungkin berpuluh juta tahun, gambut ini akan mengalami perubahan sifat fisik dan kimia akibat pengaruh tekanan (P) dan temperatur (T), sehingga berubah menjadi batubara. Proses perubahan dari gambut menjadi batubara dikenal dengan nama proses pembatubaraan (coalification). Sebagai gambaran untuk batubara dengan tebal +2m, dibutuhkan lapisan sisa-sisa tumbuhan dengan ketebalan + 60m. Pada tahap ini proses pembentukan batubara lebih didominasi oleh proses fisika dan geokimia. Pada proses pembatubaraan, gambut berubah menjadi batubara lignit, batubara bituminous sampai batubara antrasit.
    Kondisi paleogeografitektonik, serta iklim berperan penting dalam proses pembentukan batubara. Kondisi Paleogeografi dan Tektonik harus membentuk suatu cekungan yang memudahkan proses penumpukan sisa-sisa tumbuhan disamping melindungi rawa-rawa dari laut terbuka. Kondisi paleografi dan tektonik juga harus mendukung agar rawa-rawa tempat penumpukan tumbuhan yang mati, mengalami kenaikan muka air tanah secara perlahan dan lambat. Kondisi ini akan sangat mendukung bagi perkembangan endapan gambut yang tebal, yang pada akhirnya akan menentukan pembentukan lapisan-lapisan batubara. Sedangkan iklim berpengaruh besar terhadap jenis tumbuhan sebagai sumber pembentuk batubara. Iklim juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman serta kecepatan dekomposisi.
    Sekitar 90% batubara didunia termasuk Indonesia terbentuk pada lingkungan paralism yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai di dataran pantai, laguna, paparan dan fluviátil/sungai.
    Pengendapan batubara di dataran pantai terjadi pada rawa-rawa dibelakang pematang pasir pantai, yang kearah darat berasosiasi dengan sistem laguna. Daerah ini tertutup hubungan dengan laut terbuka, pengaruh oksidasi air laut tidak ada, sehingga menunjang pembentukan batubara.
    Pengendapan batubara pada lingkungan sungai dapat terjadi pada rawa-rawa dataran banjir (flood plain) dan belakang tanggul alam (natural levee). Batubara yang terbentuk pada lingkungan seperti ini biasanya membentuk lensa-lensa yang membaji ke segala arah mengikuti bentuk cekungan limpahnya. Ditinjau dari proses terbentuknya, batubara dapat dibagi atas dua golongan yaitu:
  • Batubara insitu atau autochtonous, yaitu batubara yang terbentuk ditempat dimana tanaman itu berasal. Pada umumnya batubara jenis ini memiliki lapisan yang cukup tebal dengan kandungan abu rendah.
  • Batubara tertransportasi (transported) atau allochthonous, yaitu batubara yang terbentuk tidak pada tempat dimana tanaman asal terdapat, sehingga harus melalui proses transportasi ke tempat pengendapan. Batubara jenis ini biasanya memiliki lapisan yang tipis dan mengandung mineral (abu) cukup tinggi dibandingkan dengan batubara insitu.

Jenis Batubara
Berdasarkan tahapan pembentukannya, batubara dapat dikelompokan kedalam 5 jenis, mulai dari yang memiliki kalori terendah sampai tertinggi, yaitu :
  • Gambut (peat)
  • Lignit
  • Batubara sub bituminous
  • Batubara bitominous
  • Batubara antrasit
Standar Nasional Indonesia menetapkan jenis batubara berdasarkan nilai kalorinya, yaitu :
Batubara Kalori Rendah : < 5100 (gambut dan lignite)
Batubara Kalori Sedang : 5100 - 6100 (batubara sub bituminous)
Batubara Kalori Tinggi : 6100 - 7100 (batubara bituminous
Batubara Kalori Sangat Tinggi : > 7100 (batubara bituminus dan antrasit)

 


    Dalam penggunaannya di dunia industri, batubara dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu batubara kokas (coking coal) dan batubara uap (steaming coal). Batubara kokas dipergunakan untuk pembuatan kokas (metallurgical coke), sedangkan batubara uap adalah bahan baku untuk menghasilkan uap yang selanjutnya dipergunakan menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. 
Batubara Indonesia
Di Indonesia batubara terbentuk pada cekungan-cekungan sedimentasi berumur Permo-Karbon sampai Terrier (Neogen  dan Paleogen). Sebagian besar batubara Indonesia berumur muda (Neogen), berupa batubara lignite dan subbituminus dengan  nilai kalori yang rendah dan sedang. Akan tetapi di beberapa tempat, seperti di daerah Bukit Asam dan Kubah Pinang (Sangata), batubara peringkat rendah tersebut mendapat pengaruh panas dari intrusi magma, yang menyebabkan kualitasnya meningkat, sehingga ada yang mencapai peringkat antrasit.

      Endapan batubara Neogen yang bernilai ekonomis ditemukan di Cekungan Sumatra Selatan, Cekungan Bengkulu, Cekungan Kutai dan Tarakan (Kalimantan Timar) serta Cekungan Barito (Kalimantan Selatan). Sedangkan batubara Indonesia yang berumur Paleogen dengan nilai kalori yang tinggi serta bernilai ekonomis lebih sedikit jumlahnya daripada batubara Neogen, diantaranya terdapat di Cekungan Ombilin Sumatra Barat, Cekungan Sumatra Tengah (Riau), Cekungan Pasir dan Asam-Asam (Kalimantan Timar dan Selatan), Cekungan Barito (Kalimantan Tengah dan Selatan) serta Cekungan Ketungau ( Kalimantan Barat). Endapan batubara Paleogen juga ditemukan di Sulawesi dan  Jawa Barat, walaupun tidak terdapat dalam jumlah yang banyak.
    Pada tahun 2006, jumlah sumberdaya batubara Indonesia tercatat sebanyak 90.451,87 juta ton. Dari jumlah tersebut sebanyak 67% berupa batubara dengan kalori sedang, 22% berupa batubara dengan kalori rendah, 10% berupa batubara dengan kalori tinggi dan 1% berupa batubara dengan kalori sangat tinggi.
    Batubara Indonesia ditinjau dari penggunaannya dalam dunia industri dan perdagangan termasuk kedalam jenis batubara uap (steam coal/termal coal).Hingga saat ini, di Indonesia belum pernah ditemukan  batubara kokas. Walaupun demikian batubara bituminus Indonesia sangat bagus digunakan sebagai bahan campuran kokas.
    Batubara Indonesia tergolong batubara yang bersih dengan kandungan abu (<5%) dan kandungan sulfur yang rendah (<1%), sehingga tidak terlalu mencemari lingkungan. Karakteristik tersebut membuat batubara Indonesia mampu bersaing di dunia perdagangan Internasional. Batubara Indonesia yang memiliki kalori tinggi sebagian besar diekspor ke luar negeri, sedangkan batubara peringkat rendah dan sedang dipergunakan sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik maupun sebagai bahan bakar pada berbagai industri di Indonesia, seperti industri semen, teksil maupun pupuk.
Re-Post ARSIP TAMBANG

EXPONENTIAL SMOOTHING

As for the moving average, this method assumes that the time series follows a constant model.
The value of b is estimated as the weighted average of the last observation and the last estimate. Here  is a parameter in the interval [0, 1].
Rearranging, obtains an alternative form.
The new estimate is the old estimate plus a proportion of the observed error.
Because we are supposing a constant model, the forecast is the same as the estimate.
We illustrate the method using the parameter value  = 0.2 and the data below.
The first 10 observations are used to warm up the procedure with the average of the observations providing the estimate for time 10. The average is 11.1. The value of the estimate for time 11 is computed below.
Subsequent estimates are computed with the exponential smoothing formula and are shown in the table.
Only two data elements are required to compute each estimate, the observed data and the old estimate. This contrasts with the moving average which requires the previous mobservations for the computation.
Replacing  with its equivalent, we find that the estimate is
Continuing in this fashion, we discover that the estimate is really a weighted sum of all past data.
The larger values of  provide relatively greater weight to more recent data than smaller values of . With the value of 1,  is the last data point. With the value 0,  is the same as . The figure shows the parameter estimates obtained for three different values of  together with the mean of the time series. Although the model for this method is a constant, we illustrate the response to a time series with a trend. The simulated example includes a trend of 1 from 20 to 30.
A lag characteristic, similar to the one associated with the moving average estimate, can also be seen in the figure. The lag and bias for the exponential smoothing estimate can be expressed as a function of . The quantity a in the expression is the linear trend value.
For smaller values of  we obtain a greater lag in response to the trend.
The error is the difference between the actual data and the forecasted value. If the time series is truly a constant value, the expected value of the error is zero and the variance of the error is comprised of a term that is a function of  and a second term that is the variance of the noise, .
The variance of the error increases as increases. To minimize the effect of noise, we would like to make  as small as possible (0), but this makes the forecast unresponsive to a change in the underlying time series. To make the forecast responsive to changes, we want as large as possible (1), but this increases the error variance. Practical forecasting requires an intermediate value.
We equate the approximating error for the moving average and exponential smoothing methods.
Solving for , we find the value providing the same approximation error as the moving average.
Using this relation between the parameters of the two methods, we find that the lag and bias introduced by the trend will also be the same.
The parameters used in the moving average illustrations of the last page (m = 5, 10, 20) are roughly comparable to the parameters used for exponential smoothing in figure above ( = 0.4, 0.2, 0.1).

Forecasting with Excel
The Forecasting add-in implements the exponential smoothing formulas. The example below shows the analysis provided by the add-in for the sample data. The first 10 observations are indexed -9 through 0. Compared to the table above, the period indices are shifted by -10.
The first ten observations provide the startup values for the estimate. The EXP column (C) shows the computed  estimates. TheFore(1) column (D) shows a forecast for one period into the future. The forecast interval is in cell D3. When the forecast interval is changed to a larger number the numbers in the forecast column are shifted down. The value of  is in cell C3. When this cell is changed, all the computed cells automatically adjust.
The Err(1) column (E) shows the error between the observation and the forecast. The standard deviation and Mean Average Deviation (MAD) are computed in cells E6 and E7. The value in C3 can be used as the optimization variable for the Excel Solver to minimize the error standard deviation or the MAD.

Re-Post Arsip Tambang

PEMETAAN EKSPLORASI

BATUAN BEKU
Batuan beku berdasarkan genesa dapat dibedakan menjadi batuan beku intrusif (membeku dibawah permukaan bumi) dan batuan beku ekstrusif (membeku dipermukaan bumi). Disamping itu batuan beku juga dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :
·         Batuan beku volkanik.
Biasanya mempunyai ukuran kristal yang relative halus, karena membeku dipermukaan atau dekat dengan permukaan bumi.
·         Batuan beku hipabisal.
Biasanya mempunyai Kristal-kristal yang berukuran sedang atau percampuran antara kasar dan halus, karena membeku di dalam permukaan bumi.
·         Batuan beku plutonik.
Biasanya mempunyai Kristal-kristal yang berukuran kasar, karena membeku jauh di dalam permukaan bumi.
Kelompok diatas dapat dibedakan dengan melihat ukuran kristalnya. Batuan beku volkanik dapat dibagi menjadi 3 macam yaitu, batuan volkanik instrusif, batuan beku ekstrusif (ekplosif) yang sering disebut dengan batuan fragmental dan batuan volkanik ekstrusif (efusif), seperti aliran lava.
Di Indonesia batuan beku ekstrusif lebih didominasi batuan yang bertekstur fragmental atau sering disebut batuan piroklastik yang akan dikelompokkan dengan klasifikasi yang berbeda dengan batuan beku non fragmental.

Batuan Beku Non Fragmental
Pada umumnya batuan beku non fragmental berupa batuan beku instrusif ataupun aliran lava yang tersusun atas Kristal-kristal mineral. Dalam pengamatan batuan beku ini hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
·         Warna batuan
Warna batuan beku berkatan erat dengan kompoisi mineral penyusunnya, mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh komposisi magma asalnya, sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan.
Batuan beku yang berwarna cerah umumnya adalah batuan beku asam yang tersusun atas mineral-mineral felsik misalnya kwarsa, potas feldsfar, muskovit. Batuan beku yang berwarna gelap sampai hitam umumnya adalah batuan beku intermediet dimana jumlah mineral felsik dan mafiknya hampir sama banyak. Batuan beku yang berwarna hitam kehijauan umumnya adalah batuan beku basa dengan mineral penyusun dominan adalah mineral-mineral mafik. Batuan beku berwarna hijau kelam dan biasanya monomineralik disebut batuan beku ultrabasa dengan komposisi hampir seluruhnya mineral mafik.
·         Struktur batuan.
Struktur adalah kenampakan hubungan antar bagian-bagian batuan yang berbeda. Pada batuan beku struktur yang sering ditemukan adalah :
Ø  Masif.
Bila batuan pejal tanpa retakan ataupun lubang-lubang gas.
Ø  Jointing.
Bila batuan tampak mempunyai retakan-retakan, kenampakan ini akan mudah diamati pada singkapan di lapangan.
Ø  Vesikuler.
Dicirikan dengan adanya lubang-lubang gas dengan arah teratur, lubang ini terbentuk akibat keluarnya gas pada waktu pembekuan berlangsung. Struktur ini dibagi lagi menjadi yaitu :
v  Skoriaan; bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan.
v  Pumisan; bila lubang-lubang gas saling berhubungan
v  Aliran; bila adanya kenampakan aliran dari kristal- kristal maupun lubang-lubang gas.
v  Amigdaloidal; bila lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral skunder.
v  Xenolit; struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang masuk atau tertanam kedalam batuan beku.
·         Tekstur batuan beku
Tekstur dalam batuan beku dapat diterangkan sebagai hubungan atau keadaan yang erat antara unsur-unsur mineral dengan massa gelas yang membentuk massa yang merata dari batuan. Tekstur dalam batuan beku di bagi menjadi beberapa faktor, antara lain; tingkat kristalisasi, ukuran butir, bentuk butir, granulitas dan hubungan antar butir (fabric).
Ø  Tingkat Kristalisasi.
Tingkat kristalisasi pada batuan beku tergantung dari proses pembekuan itu sendiri. Bila pembekuan magma berlangsung lambat maka akan terdapat cukup energi pertumbuhan kristal pada saat melewati perubahan fase dari cair ke padat sehingga akan terbentuk kristal-kristal yang berukuran besar. Bila penurunan suhu relative cepat maka kristal yang dihasilkan kecil-kecil dan tidak sempurna. Apabila pembekuan magma terjadi sangat cepat maka kristal tidak akan terbentuk karena tidak ada energi yang cukup untuk penggantian dan pertumbuhan kristal sehingga akan dihasilkan gelas.
Tingkat kristalisasi batuan beku dapat di bagi menjadi :
v  Holokristalin .
Bila seluruh batuan tersusun atas kristal-kristal mineral.
v  Hypokristalin/Hypohyalin/Merokristalin.
Bila batuan beku terdiri dari sebagian kristal dan gelas.
v  Holohyalin.
Bila seluruh batuan tersusun oleh gelas.
Ø  Ukuran Kristal.
 








Ø  Granulitas.
Dalam batuan beku granulitas menyangkut derajat kesamaan ukuran butir dari kristal penyusun batuan. Granulitas pada batuan beku non fragmental dapat di bagi menjadi beberapa macam yaitu:
v  Equigranular.
Disebut equigranular apabila memiliki ukuran kristal yang seragam. Tekstur equigranular di bagi menjadi :
1)       Fanerik granular
Bila kristal mineral dapat dibedakan dengan mata telanjang dan berukuran seragam. Kristal fanerik dapat dibedakan menjadi ukuran-ukuran :
-          Halus, apabila ukuran diameter rata-rata kristal individu @ 1 mm.
-          Sedang, apabila ukuran diameterkristal-kristal antara 1 mm – 5 mm.
-          Kasar, apabila ukurannya berkisar antara 5 mm – 30 mm.
-          Sangat kasar apabila ukurannya A 30 mm.
                  
2)    Afanitik.
Apabila ukuran kristal-kristal mineral sangat halus, sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata telanjang. Batuan yang bertekstur afanitik dapat tersusun atas kristal, gelas atau keduanya. Selain itu dikenal pula istilah Mikrokristalin dan Kriptokristalin.
Disebut mikrokristalin apabila kristal individu dapat dikenal/dilihat dengan menggunakan mikroskop, sedangkan Kriptokristalin apabila tidak dapat dikenal dengan mikroskop.
v  Inequigranular.
Disebut memiliki tekstur inequigranular apabila ukuran kristal pembentuknya tidak seragam. Tekstur ini dibagi menjadi :
1)    faneroporfiritik.
Bila kristal mineral yang besar (fenokris) dikelilingi kristal mineral yang lebih kecil (massa dasar) dan dapat dikenal dengan mata telanjang.
2)    Pirfiroafanitik
Bila fenokris dikelilingi oleh massa dasar yang afanitik.
3)    gelasan (glassy)
Batuan beku dikatakan memiliki tekstur gelasan apabila semuanya tersusun atas gelas.
Ø  Bentuk Butir.
Untuk Kristal-kristal yang mempunyai ukuran cukup besar dapat dilihat kesempurnaan bentuk kristalnya. Hal ini dapat memberikan gambaran mengenai proses kristalisasi mineral-mineral pembentuk batuan. Bentuk kristal dibedakan menjadi :
v  Euhedral  ;  yaitu apabila bentuk kristal sempurna dan dibatasi oleh bidang-bidang kristal yang jelas.
v  Subhedral ; yaitu apabila bentuk kristal tidak sempurna dan hanya sebagian saja yang dibatasi bidang-bidang kristal.
v  Anhedral ; yaitu apabila bidang batas kristal tidak jelas.
Ø  Komposisi Mineral.
Berdasarkan mineral penyusunnya batuan beku dapat dibedakan menjadi 4 (empat) yaitu:
v  Kelompok Granit – Riolit : berasal dari magma yang bersifat asam, terutama tersusun oleh mineral kuarsa, ortoklas, plagioklas Na, kadang terdapat hornblende biotit muskovit dalam jumlah kecil.
v  Kelompok Diorit – andesit; berasal dari magma yang bersifat intermediet, terutama tersusun atas mineral-mineral plagioklas, hornblende, piroksen dan kuarsa biotit ortoklas dalam jumlah kecil.
v  kelompok Gabro – Basalt; tersusun dari magma asal yang bersifat basa dan terdiri dari mineral-mineral olivine plagioklas Ca, piroksen dan hornblende.
v  kelompok Ultra basa; terutama tersusun oleh olivine, piroksen. Mineral lain yang mungkin adalah plagioklas Ca dalam jumlah sangat kecil.

BATUAN SEDIMEN
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan.
·         Tekstur
Berdasarkan kejadiannya, batuan sedimen dibedakan menjadi batuan sedimen klastik dan nonnkalstik. Batuan sedimen klastik adalah batuan sedimen terbetuk dari material-material hasil perombakan batuan yang telah ada sebelumnya. Batuan sedimen nonklastik adalah batuan sedimen yang terbentuk dari material-material hasil aktivitas kimia (termasuk biokimia). Dari kedua macam batuan sedimen tersebut dikenal tekstur klastik dan nonklastik.
Ø  Tekstur klastik
Semua batuan sedimen klastik mempunyai tekstur klastik. Yang perlu diperhatikan pada batuan tersebut adalah ukuran butir dan bentuk butir. Untuk ukuran butir dipakai klasifikasi ukuran butir dari wentworth sebagai berikut :
Ø  Tekstur nonklastik
Semua batuan nonklastik mempunyai tekstur nonklastik. Ciri khas dari tekstur nonklastik adalah adanya kristal-kristal yang saling menjari, tidak ada ruang pori-pori antar butir dan umumnya monomineralik.
Beberapa tekstur nonklastik yang penting adalah :
Ø  Amorf. Partikel-partikel umumnya berukuran lempung atau koloid, nonkristalin. Misal : rijang masif
Ø  Oolistik. Tersusun oleh kristal-kristal kecil berbentuk bulat atau elipsoid, terkumpul seperti telur ikan, butir-butiran berukuran 0,25 – 0,2 mm. Misal : batugamping oolit.
Ø  Pisolitik. Seperti oolitik, tetapi butiran berukuran lebih besar dari 2 mm. Misal : batugamping pisolitik.
Ø  Sakaroidal. Partikel-pertikel berbutir halus, sama besar (equigranular). Misal : batugamping sakaroidal.
Ø  Kristalin. Bila tersusun oleh kristal-kristal besar.

·         Struktur
Struktur dari batuan sedimen lebih tergantung pada hubungan antara kelompok-kelompok sedimenter dari pada hubungan antar butir yang menentukan dan mengontrol tekstur. Struktur batuan sedimen yang benar-benar lebih baik dipelajari di lapangan dari pada dari contoh genggaman.
Struktur batuan sedimen dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
Ø  Struktur fisika (mekanik), terbentuk karena proses-proses fisika. Beberapa  macam teksturnya adalah :
v  Berlapis, terlihat di lapangan sebagai susunan yang berlapis-lapis. Bila ketebalan individu lapisan lebih besar dari 1 cm dinamakan lapisan, sedangkan bila lebih kecil dari 1 cm dinamakan laminasi.
v  Bergradasi, bila butir-butiran dalam tubuh batuan dari bawah ke atas  makin halus.
v  Silang siur, yaitu satu seri perlapisan yang saling potong memotong dalam tubuh batuan sedimen.
v  Masif, bila dalam tubuh batuan sedimen tidak terlihat struktur sedimen.
Ø  Struktur kimia, terbentuk karena proses-proses kimia.
Macam-macamnya antara lain :
v  Konkreasi, bila berbentuk bulat
v  Nodul, bila berbentuk tidak teratur
Ø  Struktur organik, terbetuk karena aktivitas organisme.
Contoh : struktur reef pada batugamping

Penamaan Batuan
Penamaan batuan sedimen klastik ditentukan terutama oleh ukuran butir (tekstur), selain itu juga dibantu dengan komposisi atau struktur. Ukuran butir dalam batua sedimen klastik bisa seragam dan bisa tidak seragam, pada tidak seragam dikenal :
Ø  Fragmen, yaitu butiran berukuran lebih besar dai pasir.
Ø  Matrik, yaitu butiran-butiran yang berukuran lebih kecil dari fragmen dan terdapat disela-sela fragmen.
Ø  Semen, yaitu material yang sanagt halus (hanya dapat dilihat dengan mikroskop) yang berfungsi sebagai pengikat. Semen umumnya terdiri  dari silika, kalsit, oksida besi atau lempung.
Penamaan batuan sedimen nonklastik lebih ditentukan oleh komposisi mineralnya atau kimianya.

BATUAN METAMORF
Proses metamorfosisme adalah proses yang menyebabkan perubahan komposisi mineral, tekstur dan struktur pada batuan karena panas dan tekanan tinggi, serta larutan kimia yang aktif. Hasil akhir dari proses metamorfisme adalah batuan metamorf. Jadi batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk oleh proses metamorfisme pada batuan yang telah ada sebelumnya. Batuan asalnya (yang telah ada sebelumnya) dapat berupa batuan beku, sedimen maupun metamorf.
Ø  Susunan mineral (fabrik)
Dari kenampakan tiga dimensional, fabrik dapat dibedakan menjadi :
v  Isotropik : susunan butir ke segala arah tampak sama.
v  Anisotropik : kenampakan susunan butir mineral tidak sama ke segala arah.
Ø  Tekstur
Berdasarkan ukuran butir mineralnya, dapat dibedakan menjadi :
v  Fanaretik : butiran cukup besar untuk dapat dikenal dengan mata telanjang.
v  Afanitik : butiran terlalu kecil untuk dapat dikenal dengan mata telanjang.
Ø  Struktur
Struktur dalam batuan metamorf dikenal ada tiga :
v  Granular : bila butir-butiran mineral yang berhubungan saling mengunci (inter locking).
v  Foliasi : bila mineral-mineral pipih menbentuk rangkaian permukaan subparalel.
v  Lineasi : bila mineral-mineral prismatik membentuk kenampakan  penjajaran pada batuan, seperti genggaman pensil.
Di alam, batuan yang hanya mempunyai struktur lineasi sangat jarang, dan sebagian besar selain berlineasi juga berfoliasi. Foliasi mungkin tidak teratur, melengkung atau terlipat bila terdeformasi.
Ø  Klasifikasi
Klasifikasi yang paling sering digunakan adalah berdasarkan keadaan foliasi yang berkembang, dengan komposisi mineral berperan sebagai tambahan. Berdasarkan  foliasi, batuan metamorf dibedakan menjadi tiga, yaitu batuan yang :
v  Berfoliasi sangat kuat; yaitu yang mudah pecah melalui bidang foliasi, biasanya karena melimpahnya mika yang terorientasi. Batuannya adalah :
1)      “Slate” (batusabak). Bersifat  afanitik, mempunyai kilap suram  pada bidang foliasi. Berkomposisi utama mineral lempung. Batusabak tampak merah bila banyak mengandung hematit, hijau bila klorit, dan umumnya abu-abu sampai hitam bila banyak grafit.
2)      “Phyllite” (fillit). Bersifat afanitik, berbutir lebih kasar dari pada batusabak, dan bidang foliasinya mengkilat karena mika dan klorit yang sudah lebih banyak dari pada batusabak. Batu ini merupakan peralihan dari batusabk ke skis.
3)      “Schist” (skis). Bersifat faneritik, banyak mengandung mineral pipih yang terorientasi seperti : mika, klorit, grafit, talk.
v  Berfoliasi rendah : yaitu yang berfoliasi tetapi tidak mudah/tidak dapat pecah melalui bidang foliasi. Orientasi mineral-mineral pipih berselingan dengan mineral-mineral yang tidak pipih yang berbutir sama besar. Batuannya antara lain :
1)      Gneiss (gneis). Bersifat faneritik. Berbutir sedang sampai kasar. Komposisinya yang utama : kwarsa, feldsfar, mika dan kadang-kadang hornblede.
v  Berfoliasi sangat lemah sampai non foliasi: batuan didominasi oleh mineral-mineral berbentuk kubus, mineral-mineral pipih bila ada orientasinya acak. Batuan ada yang granular atau berlineasi. Batuannya antara lain :
2)      Qurtzite (kwarsit). Komposisinya yang sangat utama adalah kwarsa; bila pecah tak rata dan tidak mengelilingi butiran. Non foliasi.
3)      Marble (marmer). Berkomposisi utama kalsit; warnaabu-abu (biasanya)  karena grafit (bereaksi positif dengan HCl).
4)      Hornfels. Bersifat afanitik sampai faneritik halus, berkomposisi kwarsa, feldsfar, mika (diketahui melalui pengamatan lapangan).
5)      Granofels. Bersifat faneritik kasar, non foliasi, berkomposisi kwarsa dan feldsfar (yang berbentuk kubus).
6)      Granulit. Bersifat faneritik kasar, non foliasi, berkomposisi piroksin dan garnet disamping kwarsa dan feldsfar.

7)      Serpentinite. Non foliasi sampai lineasi, berwarna hitam, hijau sampai kuning pucat. Komposisi utamanya serpentin.
Re-post Arsip Tambang